Pengabdian Sunyi Heni, Menemani Anak ABK Meraih Kesempatan Pendidikan
- account_circle Zayu
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(foto: Rekan Media) Sejak 2010, perempuan tersebut mengabdikan diri mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK) di dunia pendidikan inklusif.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
RUANGPOJOK.com – Tidak semua keberhasilan seorang guru bisa diukur melalui nilai rapor atau prestasi akademik. Bagi Heni Handayani, melihat anak didiknya berani tersenyum, berkomunikasi, dan belajar bersama teman-temannya sudah menjadi kebahagiaan luar biasa.
Sejak 2010, perempuan tersebut mengabdikan diri mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK) di dunia pendidikan inklusif.
Di SDN Bojongherang, Kecamatan Cianjur, Heni bukan sekadar guru pendamping. Bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih, ia menjadi tempat belajar, berbagi, sekaligus sosok yang memberikan rasa aman.
Perjalanan pengabdiannya bermula ketika hanya dua anak ABK yang membutuhkan pendampingan. Kini, jumlahnya terus bertambah.
Pada 2026, SDN Bojongherang mendampingi 86 anak berkebutuhan khusus dari total 573 siswa. Mereka memiliki beragam hambatan, mulai dari intelektual, interaksi sosial, emosional, hingga kondisi perkembangan tertentu.
Ada anak dengan ADHD, autisme, tunarungu, lamban belajar, hingga cerebral palsy.
Di tengah keberagaman tersebut, Heni bersama guru pendamping khusus (GPK) berupaya menemukan kemampuan setiap anak. Mereka tidak memaksakan semua anak belajar dengan cara yang sama.
Proses pendampingan dimulai melalui asesmen, identifikasi, dan observasi. Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan serta pola pembelajaran masing-masing anak.
Perlahan, sejumlah anak menunjukkan perkembangan. Beberapa di antaranya bahkan mampu mengikuti pembelajaran di kelas reguler bersama teman-teman seusianya.
Heni menyebut, keberhasilan tersebut menjadi salah satu hasil paling membanggakan dari pendidikan inklusif yang mereka jalankan.
“Alhamdulillah, ada sebagian anak yang berhasil setelah kami bina dan berikan pengajaran. Anak-anak dengan ADHD, autisme, dan cerebral palsy juga ada yang bisa masuk kelas reguler,” tuturnya, Sabtu 7 November 2026.
Saat ini, SDN Bojongherang memiliki tujuh guru pendamping khusus. Mereka mendampingi anak sesuai kebutuhan dan jenjang pendidikan agar proses belajar berlangsung lebih terarah.
Namun, perjalanan Heni tidak selalu berjalan mulus.
Ketika pertama kali menerima surat keputusan sebagai guru pendamping, ia ditempatkan di Buniwangi. Saat itu, pendidikan inklusif belum banyak dipahami masyarakat.
Anak berkebutuhan khusus masih kerap dipandang sebelah mata. Sebagian keluarga bahkan kebingungan mencari sekolah yang bersedia menerima dan mendampingi anak mereka.
Heni memilih bertahan karena meyakini setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.
“Anak ABK itu bukan hanya soal disabilitas fisik. Banyak dari mereka punya hambatan interaksi sosial, emosional, dan akademik. Tapi mereka tetap punya potensi,” ujarnya.
Keyakinan itu membuatnya tidak hanya menunggu anak datang ke sekolah. Heni juga membuka pintu bagi anak-anak yang belum mendapatkan tempat belajar.
- Penulis: Zayu






Saat ini belum ada komentar