Pengabdian Sunyi Heni, Menemani Anak ABK Meraih Kesempatan Pendidikan
- account_circle Zayu
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(foto: Rekan Media) Sejak 2010, perempuan tersebut mengabdikan diri mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK) di dunia pendidikan inklusif.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ia pernah menjumpai anak berkebutuhan khusus yang tidur di pos ronda hingga kawasan alun-alun kota. Mereka tidak memiliki tempat belajar yang jelas karena keluarganya kesulitan menemukan sekolah.
Pemandangan itu membekas dalam ingatannya. Baginya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada anak yang membutuhkan uluran tangan untuk memperoleh hak pendidikan.
“Kasihan. Mereka punya hak yang sama untuk belajar,” ucapnya lirih.
Perjuangan para pendidik inklusif kemudian mendapat pijakan melalui kebijakan daerah. Pada 17 September 2020, Pemerintah Kabupaten Cianjur menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 50 tentang Pendidikan Inklusif.
Aturan tersebut menjadi landasan untuk mendorong sekolah memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus agar dapat mengakses pendidikan.
Namun, Heni menilai kebijakan belum cukup apabila tidak diikuti kepedulian dan kesiapan setiap sekolah.
Menurutnya, alasan keterbatasan guru pendamping dan ketidakpahaman metode pembelajaran masih menjadi tantangan dalam penerapan pendidikan inklusif.
“Masalahnya sering bukan aturan, tapi hati. Alasan klasiknya tidak ada guru pendamping atau tidak paham cara mengajar. Padahal pelatihan ada,” tegasnya.
Di SDN Bojongherang, upaya tersebut terus berjalan berkat dukungan kepala sekolah, Dinas Pendidikan, serta keterlibatan orang tua.
Pendaftaran peserta didik berkebutuhan khusus untuk tahun ajaran 2027 pun mulai dibuka. Heni berharap semakin banyak anak memperoleh kesempatan belajar tanpa harus merasa berbeda atau tersisih.
Baginya, perkembangan anak tidak selalu harus ditunjukkan melalui pencapaian besar. Ada kebahagiaan ketika anak yang sebelumnya kesulitan berkomunikasi mulai mampu menyebut huruf.
Ada pula rasa haru ketika anak yang semula menutup diri mulai berani menatap orang lain dan tersenyum.
“Lihat wajah mereka saat masuk sekolah, semangatnya luar biasa. Itu kebahagiaan yang tak bisa ditukar apa pun,” katanya.
Selama belasan tahun, Heni memilih tetap berada di ruang pengabdian yang tidak selalu mendapat sorotan. Ia menjalani pekerjaannya dengan kesabaran, meski keterbatasan fasilitas dan tantangan pendidikan inklusif masih harus dihadapi.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Saya hanya bekerja dengan hati,” ungkapnya.
Pada peringatan Hari Ibu, kisah Heni menjadi gambaran ketulusan seorang perempuan yang memilih memperjuangkan hak anak-anak yang kerap luput dari perhatian.
Ia mungkin bukan ibu bagi semua anak yang didampinginya. Namun, melalui kesabaran dan kepeduliannya, Heni menghadirkan kehangatan seorang ibu di ruang-ruang kelas.
Sebab, bagi anak-anak berkebutuhan khusus, kesempatan untuk diterima, belajar, dan tumbuh bersama teman-temannya merupakan harapan yang sangat berarti.(rz)
- Penulis: Zayu






Saat ini belum ada komentar