Rumah Nyaris Roboh, Dua Anak Yatim di Cibeber Bertahan Tanpa Orangtua
- account_circle Robi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar Istimewa : Pikri Muhamad Sidik (15) berdiri di depan rumahnya yang nyaris roboh di Kampung Pasirwaru, Desa Sukalaharja, Kecamatan Cibeber, Cianjur. Atap rapuh dan dinding bilik yang rusak membuatnya khawatir saat hujan deras dan angin datang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan bantuan perbaikan karena kondisi rumah sudah tidak layak untuk ditempati.
Ipan (31), saudara Sidik dan Sani, juga mengaku sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada lingkungan setempat.
Ia mengatakan pihak keluarga telah melaporkan kondisi rumah kepada RT dan RW. Namun, bantuan perbaikan belum mereka terima.
“Sudah ke RT dan RW, tapi bertahun-tahun belum ada bantuan untuk rumahnya. Sekarang kondisinya semakin parah,” kata Ipan.
Ipan kemudian mengunggah kondisi rumah tersebut melalui media sosial. Ia berharap unggahan itu membuka jalan bagi bantuan untuk kedua saudaranya.
Rumah tersebut merupakan peninggalan almarhum ayah Sidik dan Sani. Sebelumnya, keluarga mereka juga menggunakan rumah itu sebagai tempat tinggal.
Kini, Ipan tinggal di Sukabumi setelah menikah. Ia sebenarnya ingin membawa Sidik tinggal bersamanya.
Namun, Ipan masih mempertimbangkan pendidikan Sidik yang belum selesai.
“Saya sudah mengajak Sidik tinggal di Sukabumi. Tapi sekolahnya belum selesai. Jadi untuk sementara dia masih di sana,” ujarnya.
Ipan semakin khawatir ketika melihat kondisi rumah yang terus memburuk. Ia takut hujan deras dan angin kencang memicu bangunan tersebut roboh.
“Intinya kami ingin ada perhatian dari pemerintah. Rumahnya sudah tidak layak, apalagi kalau hujan dan angin. Kami takut rumah itu roboh,” ungkapnya.
Kini Sidik masih melanjutkan sekolah sambil bertahan di rumah yang semakin renta.
Di tengah atap yang rapuh dan bilik berlubang, ia menjalani hari dengan harapan sederhana.
Sidik hanya ingin memiliki tempat tinggal yang aman. Rumah yang mampu melindunginya ketika hujan turun dan angin datang.
Bagi anak seusianya, rumah semestinya menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Namun bagi Sidik, setiap hujan deras justru menghadirkan kecemasan tentang keselamatan dirinya di rumah peninggalan ayahnya.
- Penulis: Robi
- Editor: Ikbal















































Saat ini belum ada komentar