Bendung Cihea Simpan Cerita Mistis, Dari Tradisi Sesajen Hingga Bunyi Gamelan Malam Hari
- account_circle Ikbal
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar Redaksi : Bendung Cihea
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
RUANGPOJOK.COM — Suasana malam di sekitar Bendung Cihea, Kabupaten Cianjur, menyimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah suara aliran air, masyarakat mengenal kisah tentang bunyi gamelan yang disebut terdengar pada malam hari.

Cerita itu menjadi bagian dari kisah mistis yang berkembang di sekitar bendung peninggalan masa Hindia Belanda tersebut.
Selain bunyi gamelan, masyarakat juga mengenal tradisi tahunan yang dahulu dilakukan di sekitar bendung.

Hendra, petugas Bendung Cihea, menuturkan tradisi tersebut salah satunya berupa pemotongan kambing berwarna hitam.
Tradisi itu juga dilengkapi sejumlah perlengkapan sesajen. Di antaranya rurujakan atau berbagai jenis rujak, telur, serta buah-buahan.
Menurut Hendra, tradisi tersebut berkaitan dengan kegiatan masyarakat di sekitar bendung pada masa lalu.
Cerita mistis lainnya muncul dari pembangunan saluran atau terowongan sepanjang sekitar 1,2 kilometer.

Pada masa pembangunan, pekerjaan disebut dilakukan secara manual oleh pekerja lokal.
Dari proses tersebut kemudian berkembang berbagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Menurut cerita, mungkin karena dari pembuatan tunnel nya, yaitu terowongan yang panjang sekitar 1,2 kilometer itu, dulunya kan para pekerja lokal manual,” kata Hendra kepada ruangpojok.com di kantornya, Jum’at, 2 Oktober 2026.
Ia menyebut terdapat cerita bahwa sebagian pekerja yang masuk ke dalam terowongan tidak seluruhnya kembali keluar.
Namun, cerita tersebut merupakan kisah yang berkembang di tengah masyarakat.
Kisah lain berkaitan dengan suara gamelan yang disebut terdengar ketika malam tiba.
Hendra mengaku pernah mendengar suara menyerupai gamelan ketika berada di lokasi pada malam hari.
“Kalau malam hari kadang kita mendengar suara seperti gamelan,” ungkapnya.
Menurut Hendra, cerita tersebut berkaitan dengan tradisi masyarakat pada masa lalu.
Saat kegiatan ritual tahunan berlangsung, masyarakat disebut menggelar hiburan seperti wayang golek dan kendang penca.
Karena itu, kisah bunyi gamelan, sesajen, dan ritual tahunan menjadi bagian dari ingatan masyarakat sekitar Bendung Cihea.
Namun, kisah mistis dan ritual tersebut perlu ditempatkan sebagai tradisi atau cerita yang berkembang di masyarakat.
Di balik berbagai cerita tersebut, Bendung Cihea memiliki sejarah panjang dalam sistem pengairan pertanian Cianjur.
Keberadaan sistem irigasi Cihea telah tercatat sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.
Dokumen mengenai Daerah Irigasi (DI) Cihea menyebut pembangunannya berlangsung bertahap pada 1879 hingga 1904.
Sistem tersebut kemudian mulai berfungsi pada 1914.
Sementara itu, Bendung Cisokan atau yang dikenal masyarakat sebagai Bendung Cisuru tercatat sebagai bagian penting dari jaringan irigasi tersebut.
- Penulis: Ikbal
- Editor: Robby





Saat ini belum ada komentar