Hingga pagi tiba, ia menyadari kondisi pakaiannya berubah, meninggalkan tanda tanya besar dan luka yang tak kasatmata.
Mawar mengaku, kejadian tersebut bukan yang pertama. Di lingkungan sekolah, ia kerap mengalami perlakuan yang membuatnya tidak nyaman, mulai dari godaan hingga tindakan yang melampaui batas.
Ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman justru terasa seperti ruang asing yang menyimpan kecemasan.
Ketakutan untuk berbicara semakin besar karena pelaku diduga memiliki pengaruh di lingkungan sekolah. Ia bahkan merasa citranya sempat dibentuk negatif oleh isu-isu yang beredar.
“Saya takut tidak dipercaya,” katanya.
Selama ini, Mawar hanya berbagi cerita dengan teman dekatnya. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri melapor kepada wali kelas. Respons yang diterima menjadi titik awal keberaniannya untuk berontak.
Dengan pendampingan, Mawar kini telah memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. Meski trauma masih membayangi, ia memilih untuk melangkah maju.
“Saya masih trauma, tapi saya ingin tetap punya masa depan,” ujarnya.
Kisah Mawar menjadi pengingat keras bahwa di balik hiruk pikuk aktivitas sekolah, masih ada suara-suara yang nyaris tenggelam.
Sebuah realitas pahit yang menuntut perhatian, agar ruang pendidikan benar-benar menjadi tempat aman bukan ruang sunyi yang menyimpan luka.
Page: 1 2
RUANGPOJOK.COM - Warga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Campakamulya, Kabupaten…
RUANGPOJOK.COM - Kapolsek Mande memberikan pembinaan kepada siswa SDN Cibalagung, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, setelah…
RUANGPOJOK.COM - Polisi menyelidiki dugaan percobaan penculikan terhadap dua siswa kelas I SDN Cibalagung, Desa…
RUANGPOJOK.COM - Musim kemarau selama lebih dari 40 hari memicu krisis air bersih di Desa…
RUANGPOJOK.COM - Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai Golkar, Isfhan Taufik Munggaran, mengajak masyarakat…
RUANGPOJOK.COM - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat resmi mencabut laporan terhadap pengacara Hotman Paris Hutapea.…