Ia menegaskan, meski tidak harus diterapkan setiap hari, model prasmanan layak dijalankan secara berkala. Minimal satu hingga dua kali dalam sepekan.
“Di Cianjur, metode ini sudah mulai diterapkan di beberapa wilayah. Frekuensinya beragam, ada yang satu kali, dua kali, bahkan tiga kali dalam sepekan,” katanya.
Ganjar juga menyoroti kehadiran dapur langsung di lokasi. Menurutnya, sistem ini menjaga kualitas makanan sekaligus meningkatkan kepercayaan siswa terhadap menu yang disajikan.
Selain itu, pola antrean dinilai lebih tertib. Hanya siswa yang hadir mengambil makanan, sehingga potensi sisa makanan dapat ditekan.
“Chef memasak langsung di lokasi, siswa bisa melihat prosesnya. Jika ada yang tidak suka nasi, bisa diganti buah. Jadi makanan tidak terbuang,” ujarnya.
Ia menambahkan, fleksibilitas menu penting untuk mencegah siswa mengonsumsi makanan yang tidak sesuai kondisi tubuh.
“Kalau siswa tidak suka atau memiliki alergi, jangan dipaksakan. Itu bisa menimbulkan reaksi seperti gatal atau gangguan kesehatan lainnya,” pungkasnya.
Page: 1 2
RUANGPOJOK.COM - Warga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Campakamulya, Kabupaten…
RUANGPOJOK.COM - Kapolsek Mande memberikan pembinaan kepada siswa SDN Cibalagung, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, setelah…
RUANGPOJOK.COM - Polisi menyelidiki dugaan percobaan penculikan terhadap dua siswa kelas I SDN Cibalagung, Desa…
RUANGPOJOK.COM - Musim kemarau selama lebih dari 40 hari memicu krisis air bersih di Desa…
RUANGPOJOK.COM - Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai Golkar, Isfhan Taufik Munggaran, mengajak masyarakat…
RUANGPOJOK.COM - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat resmi mencabut laporan terhadap pengacara Hotman Paris Hutapea.…