Akibatnya, petani tetap kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah. Kondisi itu menghambat aktivitas pertanian saat musim kemarau mulai berlangsung.
Padahal, proyek JIAT bertujuan menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian ketika curah hujan menurun.
Informasi yang dihimpun menyebut nilai proyek JIAT di Desa Mekarsari diperkirakan mencapai sekitar Rp1,2 miliar.
Namun, pelaksanaan proyek diduga menyisakan sejumlah persoalan. Kelompok tani mengaku mengeluarkan dana ratusan juta rupiah untuk material dan operasional pekerjaan.
Mereka juga menduga terjadi keterlambatan pembayaran dari pelaksana kepada pihak yang mengerjakan proyek di lapangan.
Persoalan serupa disebut muncul pada proyek JIAT di Desa Mekarlaksana, Kecamatan Sindangbarang.
Petani mendesak BBWS memeriksa kualitas pekerjaan secara menyeluruh. Mereka meminta seluruh kerusakan diperbaiki sebelum proyek diserahterimakan.
Warga berharap evaluasi yang dijanjikan Bupati menghasilkan langkah nyata. Mereka ingin jaringan irigasi segera berfungsi untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian.
Page: 1 2
RUANGPOJOK.COM - Warga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Campakamulya, Kabupaten…
RUANGPOJOK.COM - Kapolsek Mande memberikan pembinaan kepada siswa SDN Cibalagung, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, setelah…
RUANGPOJOK.COM - Polisi menyelidiki dugaan percobaan penculikan terhadap dua siswa kelas I SDN Cibalagung, Desa…
RUANGPOJOK.COM - Musim kemarau selama lebih dari 40 hari memicu krisis air bersih di Desa…
RUANGPOJOK.COM - Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai Golkar, Isfhan Taufik Munggaran, mengajak masyarakat…
RUANGPOJOK.COM - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat resmi mencabut laporan terhadap pengacara Hotman Paris Hutapea.…